SALAH SATU FENOMENA ALAM MENGENAI GUNUNG BERAPI DI INDONESIA

BAB I Pendahuluan

Latar Belakang
A. Pengertian Gunung Berapi
Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang dapat didefinisikan sebagai suatu  sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus.
Lebih lanjut, istilah gunung api ini juga dipakai untuk menamai fenomena pembentukan ice volcanoes atau gunung api es dan mud volcanoes atau gunung api lumpur. Gunung api es biasa terjadi di daerah yang mempunyai musim dingin bersalju, sedangkan gunung api lumpur dapat kita lihat di daerah Kuwu, Grobogan, Jawa Tengah yang populer sebagai Bledug Kuwu.
Gunung berapi terdapat di seluruh dunia, tetapi lokasi gunung berapi yang paling dikenali adalah gunung berapi yang berada di sepanjang busur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Busur Cincin Api Pasifik merupakan garis bergeseknya antara dua lempengan tektonik.
Gunung berapi terdapat dalam beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yang aktif mungkin berubah menjadi separuh aktif, istirahat, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif atau mati. Bagaimanapun gunung berapi mampu istirahat dalam waktu 610 tahun sebelum berubah menjadi aktif kembali. Oleh itu, sulit untuk menentukan keadaan sebenarnya dari suatu gunung berapi itu, apakah gunung berapi itu berada dalam keadaan istirahat atau telah mati
B. MasalahBerdasarkan latar belakang di atas maka akan timbul masalah :
Pengertian Gunung Api ?
Jenis – Jenis Gunung Api?
Klasifikasi Gunung Api berdasarkan bentuknya?
Daftar Gunung Berapi
Penyebab letusan pada gunung berapi
Tipe-tipe erupsi gunung berapi
C. TUJUAN
Tujuan masalah yang dibahas dalam karya tulis ini adalah untuk mengetahui arti dari gunung api, bahaya dari gunung Api, dan cara menanggulanginya. Agar para penduduk di sekitar gunung berapi dapat mengetahui ciri-ciri gunung meletus sehingga dapat mengurangi kehilangan harta dan nyawa.
BAB II PEMBAHASAN
Apabila gunung berapi meletus, magma yang terkandung di dalam kamar magmar di bawah gunung berapi meletus keluar sebagai lahar atau lava. Selain daripada aliran lava, kehancuran oleh gunung berapi disebabkan melalui berbagai cara seperti berikut:
1.    Aliran lava.
2.    Letusan gunung berapi.
3.    Aliran lumpur.
4.    Abu.
5.    Kebakaran hutan.
6.    Gas beracun.
7.    Gelombang tsunami.
8.    Gempa bumi.
Volkanologi Volkanologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang volkano, lava, magma, dan fenomena geologi dan geofisika yang menyertainya. Kata volkanologi berasal dari bahasa Latin, vulcan, yang merupakan Dewa Api Romawi. Gunung api adalah lubang atau rekahan pada kerak bumi yang mengeluarkan magma dan gas-gas dari dalam bumi. Aktivitas volkanik meliputi keluarnya batuan yang kemudian membentuk pegunungan atau bentuk-bentuk seperti gunung dalam waktu tertentu. Gunung api pada umumnya ditemukan pada daerah-daerah pertemuan lempeng yang berjenis divergen atau konvergen. Pemekaran dasar samudera, contohnya Mid-Atlantic Ridge, merupakan contoh pegunungan yang disebabkan pertemuan lempeng divergen yang saling menjauh. Pegunungan sirkum pasifik merupakan salah satu contoh yang disebabkan oleh pertemuan lempeng konvergen. Gunung api juga bisa disebabkan oleh adanya pemekaran atau penipisan kerak bumi (yang biasa disebut gunung api intraplate non hotspot) seperti African Rift Valley dan Rhine Graben. Gunung api juga bisa disebabkan oleh mantle plumes tau hotspot, seperti yang terjadi di Hawaii, yang kejadiannya jauh dari batas lempeng. Di seluruh dunia saat ini ada ~1500 gunung api, dengan rata-rata jumlah erupsi adalah 50 erupsi yang tercatat tiap tahunnya. Dari 1500 gunung api yang tersebar di seluruh dunia tersebut, terdapat 89 yang dianggap sebagai high risk volcanoes, yaitu 89 gunung api yang sangat aktif. Hampir 50%-nya, yaitu sejumlah 42 gunung api berada di Asia, sedangkan sisanya 40 di Amerika, dan 7 di Eropa.
B.    Jenis gunung berapi berdasarkan bentuknya
1.    Stratovolcano
Tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk suatu kerucut besar (raksasa), kadang-kadang bentuknya tidak beraturan, karena letusan terjadi sudah beberapa ratus kali. Gunung Merapi merupakan jenis ini.
2.    Perisai
Tersusun dari batuan aliran lava yang pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut yang tinggi (curam), bentuknya akan berlereng landai, dan susunannya terdiri dari batuan yang bersifat basaltik. Contoh bentuk gunung berapi ini terdapat di kepulauan Hawai.
3.    Cinder Cone
Merupakan gunung berapi yang abu dan pecahan kecil batuan vulkanik menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya. Jarang yang tingginya di atas 500 meter dari tanah di sekitarnya.
4.    Kaldera
Gunung berapi jenis ini terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung atas gunung sehingga membentuk cekungan. Gunung Bromo merupakan jenis ini.
C.    Klasifikasi gunung berapi di Indonesia
Kalangan vulkanologi Indonesia mengelompokkan gunung berapi ke dalam tiga tipe berdasarkan catatan sejarah letusan/erupsinya.
a.    Gunung api Tipe A : tercatat pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600.
b.    Gunung api Tipe B : sesudah tahun 1600 belum tercatat lagi mengadakan erupsi magmatik namun masih memperlihatkan gejala kegiatan vulkanik seperti kegiatan solfatara.
c.    Gunung api Tipe C : sejarah erupsinya tidak diketahui dalam catatan manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/fumarola pada tingkah lemah
D.    Daftar gunung berapi di Indonesia
1.    Agung
2.    Api Siau
3.    Argopuro
4.    Arjuno
5.    Barujari
6.    Batur
7.    Bromo
8.    Bur ni Telong
9.    Ciremai
10.    Galunggung
11.    Gamkonora
12.    Gede
13.    Guntur
14.    Ibu
15.    Ine Like
16.    Iya
17.    Kawah Ijen
18.    Kelimutu
19.    Kelud
20.    Kerinci
21.    Krakatau
22.    Lawu
23.    Leuser
24.    Lokon
25.    Lurus
26.    Mahameru
27.    Merapi
28.    Raung
29.    Rinjani
30.    Sago
31.    Salak
32.    Semeru
33.    Sibayak
34.    Sinabung
35.    Singgalang
36.    Sirung
37.    Soputan
38.    Talamau
39.    Talang
40.    Tambora
41.    TandikatTangkuban Perahu
42.    Welirang
43.    Merbabu
44.    Papandayan
E.    Penyebab letusan pada gunung berapi
Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng. Pada batas lempeng inilah terjadi perubahan tekanan dan suhu yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material sekitarnya yang merupakan cairan pijar (magma). Magma akan mengintrusi batuan atau tanah di sekitarnya melalui rekahan- rekahan mendekati permukaan bumi.
Gunung berapi terbentuk dari magma, yaitu batuan cair yang terdalam di dalam bumi. Magma terbentuk akibat panasnya suhu di dalam interior bumi. Pada kedalaman tertentu, suhu panas ini sangat tinggi sehingga mampu melelehkan batu-batuan di dalam bumi. Saat batuan ini meleleh, dihasilkanlah gas yang kemudian bercampur dengan magma. Sebagian besar magma terbentuk pada kedalaman 60 hingga 160 km di bawah permukaan bumi. Sebagian lainnya terbentuk pada kedalaman 24 hingga 48 km. Magma yang mengandung gas, sedikit demi sedikit naik ke permukaan karena massanya yang lebih ringan dibanding batu-batuan padat di sekelilingnya. Saat magma naik, magma tersebut melelehkan batu-batuan di dekatnya sehingga terbentuklah kabin yang besar pada kedalaman sekitar 3 km dari permukaan. Kabin magma (magma chamber) inilah yang merupakan gudang (reservoir) darimana letusan material-material vulkanik berasal. Magma yang mengandung gas dalam kabin magma berada dalam kondisi di bawah tekanan batu-batuan berat yang mengelilinginya. Tekanan ini menyebabkan magma meletus atau melelehkan conduit (saluran) pada bagian batuan yang rapuh atau retak. Magma bergerak keluar melalui saluran ini menuju ke permukaan. Saat magma mendekati permukaan, kandungan gas di dalamnya terlepas. Gas dan magma ini bersama-sama meledak dan membentuk lubang yang disebut lubang utama (central vent). Sebagian besar magma dan material vulkanik lainnya kemudian menyembur keluar melalui lubang ini. Setelah semburan berhenti, kawah (crater) yang menyerupai mangkuk biasanya terbentuk pada bagian puncak gunung berapi. Sementara lubang utama terdapat di dasar kawah tersebut.
Setelah gunung berapi terbentuk, tidak semua magma yang muncul pada letusan berikutnya naik sampai ke permukaan melalui lubang utama. Saat magma naik, sebagian mungkin terpecah melalui retakan dinding atau bercabang melalui saluran yang lebih kecil. Magma yang melalui saluran ini mungkin akan keluar melalui lubang lain yang terbentuk pada sisi gunung, atau mungkin juga tetap berada di bawah permukaan.
F.    Tipe-tipe erupsi gunung berapi
Erupsi gunung berapi adalah peristiwa keluarnya magma dari permukaan bumi. Erupsi ini biasanya terjadi di tempat yang kita kenal dengan nama gunung berapi. Erupsi tidak hanya berbentuk ledakan, tapi juga memiliki banyak variasi. Hal tersebut diakibatkan oleh tekanan gas dalam dapur magma, kekentalan (viskositas) magma, dan kedalaman dapur magma.tipe-tipe erupsi:Tipe Erupsi HawaiianNah kriteria erupsi tipe yang satu ini adalah nggak ada letusannya. Nama lainnya adalah ‘efusif’ atau ‘lelehan’, yaitu magmanya keluar langsung aja ga pake acara letusan gunung berapi, langsung meleleh keluar dari lobang kepundan gunung berapi. Peristiwa ini karena viskositas (kekentalan) magmanya yang rendah (encer), tekanan gasnya kecil, dapur magmanya dangkal.Tipe Erupsi StrombolianTipe erupsi strombolian itu biasanya diawali dengan lontaran lapili dan bom (material gunung berapi yang ukurannya > 4 mm) secara ritmik dan tinggi lontaran materialnya 10-100 meter. Setelahnya dilanjut dengan lelehan magma yang keluar bersamaan dengan semburan material piroklastik (batu beku yang membeku dengan cepat di udara). Viskositas magma tipe strombolian sedikit lebih kental ketimbang tipe HawaiiaTipe Erupsi VulkanianTipe erupsi vulkanian dicirikan dengan magmanya yang asam, yaitu magma yang mengandung banyak silikat. Viskositas magmanya cair-kental, tekanan gasnya sedang, dan dapur magmanya dangkal.
1)Tipe Erupsi Peleean Tipe ini dinamakan tipe pelee setelah meletusnya Gunung Pelee di India Barat. Magma yang keluar merupakan magma intermediet (percampuran antara magma asam dan magma basa). Magma yang dikeluarkan dari gunung ini memiliki viskositas yang tinggi. Tekanan gas cukup tinggi dan dapur magma yang dalam menyebabkan tipe erupsi gunung ini bukan efusif (lelehan) melainkan eksplosif
(ledakan)Tipe Erupsi Plinia
2)    Dua karakteristik utama adalah letusannya yang cukup kuat, erupsi gas yang terjadi secara kontinyu (terus-menerus), dan ejeksi (lontaran) batuapung dengan volume yang cukup besar. Erupsi gunung tipe plinian dapat terjadi selama seharian penuh, bahkan berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Dalam beberapa kasus erupsi tipe plinian yang pernah terjadi, setelah erupsi dalam jangka waktu yang lama tersebut terhenti maka akan terbentuk sebuah kaldera akibat runtuhnya bagian atas gunung karena dapur magma yang kosong.
G.    Mitigasi bencana gunung api :
1.    Memantau kegiatan gunungapi secara menerus.
2.    Menyediakan peta geologi, Peta rawasan kawan bencana (KRB), peta zona resiko
3.     Sosialisiasi bahaya letusan gunungapi kepada masyarakat
4.    Meningkatkan sumberdaya manusia dan pendukungnya
5.    Membangun tanggul penahan lahar
6.     Hindari tempat-tempat yang memiliki kecenderungan untuk dialiri lava dan atau lahar
7.    Perkenalkan struktur bangunan tahan api.
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Gunung meletus merupakan suatu bencana alam yang sangat dasyat. Sudah banyak manusia yang tewas pada bencana alam ini. Pada saat terjadi gunung meletus banyak bahaya langsung yang dirasakan penduduk sekitar yaitu leleran lava, aliran piroklastik/ awan panas, jatuhan piroklastik, lahar letusan, dan gas vulkanik beracun. Bahaya sekunder yang terjadi pada saat atau setelah terjadi gunung meletus yaitu lahar hujan, banjir bandang, dan longsoran vulkanik.
B. Saran
Sebaiknya di setiap gunung api yang masih aktif ada pos pengawasan yang dilengkapi dengan alat-alat pemantauan yang akurat. Informasikan atau komukasikan segala tanda bahaya yang diperoleh sedini mungkin kepada masyarakat atau melalui kepala desa masing-masing. Buat sirene tanda bahaya untuk mengingatkan penduduk untuk segera mengungsi bila keadaaan tambah gawat. Pembuatan sungai yang khusus untuk aliran lahar dan membuat tanggul yang kokoh untuk melindungi desa dari aliran lahar.

7 KEBIASAAN BAIK STOP MEMBUANG SAMPAH DI GUNUNG

Tidak meninggalkan apapun kecuali Jejak Kaki” begitulah penggalan kalimat yang harus selalu diingat para pecinta alam. Masihkah kamu merasa bangga mengaku pecinta alam jika masih buang sampah sembarangan dan melakukan vandalisme? Pertanyaan yang sepele, namun kamu harus merenungkan lebih dalam pertanyaan ini.

waktu sampah teruraiBelakangan ini orang berlomba untuk berpetualang mendaki gunung. Setiap gunung saat weekend selalu penuh dengan para pendaki. Berduyun-duyun orang-orang yang mengaku pecinta alam ini berpetualang menaklukkan puncak.

Namun ada efek negatif yang ditinggalkan dari banyaknya pendaki yang naik gunung. Beberapa oknum pecinta alam ini meninggalkan sampah terutama di sekitar pos pendakian dan di setiap jalur yang dilalui pendaki. Sampah ini makin lama makin banyak dan merajalela. Plastik, botol, kaleng dan aneka macam barang bawaan pendaki ditinggalkan begitu saja di sembarang tempat.

Tahukah kamu bahwa alam butuh berapa lama untuk menguraikan sampah-sampah itu? Hanya dibutuhkan satu hal saja agar alam ini tetap lestari, yaitu Kesadaran. Yak, hanya dengan sebuah kesadaran dari masing-masing individu untuk tidak meninggalkan apapun terutama sampah pada alam yag kita cintai ini. Jika masing-masing individu mau untuk mengelola sampah yang dibawanya untuk dibawa turun, niscaya alam kita akan tetap hijau dan lestari.

Jangan hanya karena merasa sudah membayar biaya retribusi, maka kamu bisa dengan seenaknya membuang sampah dimanapun yang kamu suka. Tidak akan cukup berapapun petugas kebersihan yang diturunkan untuk mengatasi.

Vandalisme di Gunung.

Buang sampah di gunungSudah jamak pula oknum pendaki di Indonesia melakukan vandalisme di gunung. Corat-coret bahkan pengrusakan fasilitas sering kali dilakukan tanpa dapat ditanggulangi. Bahkan beberapa malah merasa bangga jika dapat melakukan itu, aneh kan?

Mengapa justru mereka tidak bangga jika mereka juga ikut andil untuk menjaga kelestarian alam? Mental perusak ini yang kadang malah bikin orang lain ikut menirukan. Ada orang yang corat-coret batu, beberapa saat lainnya pasti akan lebih banyak lagi orang yang corat-coret di tempat itu.

Simak: 8 Tips Pendaki Pemula

Padahal gunung-gunung di Indonesia kini telah menjadi destinasi andalan di mata wisatawan mancanegara, sebut saja Cartenz, Rinjani, Semeru, Bromo, Ijen dan masih banyak lagi. Bahkan sukarelawan asing sampai melakukan pembersihan di jalur pendakian kita. Sementara pendaki kita dengan cueknya membuang sampah dan corat-coret sembarangan.

Berikut beberapa kebiasaan baik yang harus kita latih dan pupuk agar konservasi alam tetap lestari:

  1. Mulailah dengan niat yang baik untuk selalu menjaga kelestarian alam.

Etika pecinta alam adalah:

  • Tidak meninggalkan apapun kecuali jejak.
  • Tidak mengambil apapun kecuali foto.
  • Tidak membunuh apapun kecuali waktu.
  1. Kurangi bekal yang berbungkus plastik, botol dan kaleng.

Dengan mengurangi bungkus yang susah terurai di alam maka kita juga ikut andil menyelamatkan alam kita. Barang yang kamu bawa berpotensi membuat polusi untuk alam.

Baca: Makanan yang cocok untuk bekal mendaki

  1. Tidak membuang sampah di jalur pendakian.

Jalur pendakian bukanlah tempat sampah. Simpanlah sampah yang kamu keluarkan dan kumpulkan dalam tempat tersendiri.

  1. Bawa turun kembali sampah apapun yang keluar dari ransel kita.

Kamu dapat membuangnya di tempat sampah yang sudah tersedia di bawah.

  1. Tidak melakukan vandalisme dengan cara apapun.

Corat-coret dan pengrusakan fasilitas memperburuk citra destinasi wisata yang kamu kunjungi.

  1. Tegur dan nasihati pendaki lain yang buang sembarangan atau yang merusak fasilitas.

Tindakan ini berguna untuk member edukasi dan kesadaran pada oknum yang mentalnya masih payah. Semoga dengan kesadaran mereka dapat pula malah menjadi agen-agen konservasi alam.

  1. Lakukan aksi bersih gunung untuk konservasi.

Ikutlah kegiatan bersih gunung masal secara sukarela untuk mendukung kebersihan jalur pendakian.

Sebetulnya secara prinsip, alam akan tetap lestari jika tidak ada campur tangan manusia di dalamnya. Sebuah destinasi wisata semakin dikenalkan ke umum, maka semakin banyak orang yang mendatanginya. Semakin banyak yang datang ke lokasi itu maka potensi kerusakan alam akan semakin besar pula.

Simpan: Daftar Nomor Telpon Pos Perijinan Gunung di Indonesia

Lebih baik kamu tidak mendaki gunung jika hanya untuk buang sampah dan vadalisme di Gunung. Beban bumi kita sudah terlalu berat. Tugas kita pula untuk mengurangi dan menyelamatkannya…

12 TIPS SAAT TERSESAT DI GUNUNG

Saat mendaki gunung, tersesat merupakan salah satu risiko yang harus dihadapi. Setiap pendaki memiliki potensi untuk itu. Banyak sekali kita mendengar berita tentang tersesatnya pendaki di gunung. Mulai dari yang tersesat selama berjam-jam, berhari-hari hingga yang paling buruk meninggal karena tersesat dan hilang di gunung.

 

Berikut 12 tips yang bisa menjadi tambahan informasi terkait dengan tersesat di gunung. Tips ini bukan hanya tentang cara menghindari agar diri tidak tersesat, tapi juga tentang bagaimana sikap dan tindakan yang perlu kita terapkan saat tersesat di gunung.

 

1) Jangan takabur

 

Ini merupakan hal mendasar yang perlu diperhatikan oleh setiap pendaki gunung. Terlepas dari sering dikait-kaitkannya sikap takabur dengan hal-hal berbau mistis, sikap takabur bisa membuat kita terlalu percaya diri berlebihan dan merasa hebat. Pada kondisi seperti itu bisa mengakibatkan seseorang tertutup pikirannya dan mengabaikan hal-hal penting saat mendaki. Misalnya tanda-tanda penunjuk jalan dan tanda-tanda unik atau patokan-patokan penting saat melewati rute di gunung.

 

2) Cari informasi tentang jalur dan rute pendakian

 

Cari sebanyak mungkin informasi jalur dan rute dari gunung yang hendak didaki. Bisa dari internet atau bisa juga dari teman anda yang sudah pernah mendaki gunung tersebut sebelumnya. Tanyakan titik-titik atau tanda-tanda penting pada jalur yang akan anda lewati yang bisa menjadi faktor pemasti posisi anda saat berada di gunung nantinya. Misalnya adanya sungai, bangunan, dll.

 

3) Peralatan navigasi

 

Peralatan navigasi seperti GPS, peta, dan kompas sangat berguna untuk men-track jalur dan rute, mengetahui posisi anda dan menunjukkan arah. Peralatan ini akan sangat membantu dalam kondisi tersesat.

 

4) Gunakan guide

 

Menggunakan guide misalnya warga lokal yang sudah sudah sering turun naik gunung tersebut dan sangat paham tentang jalur pendakian merupakan salah satu cara untuk memperkecil potensi tersesat saat mendaki gunung. Namun biasanya menggunakan guide berarti anda harus mengeluarkan biaya tambahan.

 

5) Perhatikan sekitar dengan seksama

 

Saat mendaki gunung perhatikan kondisi di sekitar anda dengan seksama. Terutama jika ada tanda-tanda atau hal-hal unik. Ini berguna agar ada semacam “rekaman” di benak kita sehingga jika nanti pada saat turun gunung anda tersesat, “rekaman-rekaman” pada saat naik tersebut bisa membantu anda mengingat-ingat kembali jalur pendakian yang benar. Perhatikan percabangan-percabangan yang menurut anda berpotensi menimbulkan kebingungan.

 

6) Gunakan penanda

 

Saat anda melewati percabangan yang membingungkan dan tidak yakin dengan jalur mana yang mesti diambil, pasanglah tali berwarna dipersimpangan/percabangan yang membingungkan tersebut. Jika ternyata jalur yang anda pilih salah maka anda dapat kembali ke persimpangan awal lagi dengan berpatokan pada tanda-tanda yang tadi sudah anda pasang. Hal ini untuk mencegah agar anda tidak “tersesat setelah tersesat”. Jika tidak, anda bisa tersesat lebih jauh. Pernahkah anda memilih jalur yang salah di sebuah percabangan namun pada saat anda sadar bahwa jalur tersebut salah dan anda mencoba kembali ke persimpangan awal, eh malah anda semakin bingung dan tersesat tidak karuan? Disitulah gunanya memasang tali penanda di persimpangan yang membingungkan. Namun jangan lupa untuk mencabut kembali tali-tali penanda yang anda pasang di jalur yang salah tersebut.

 

7) Cek jalur

 

Satu lagi tips saat tim anda kebingungan saat menemukan jalur bercabang dan tidak yakin harus memilih jalur yang mana adalah dengan mencek jalur terlebih dahulu. Utuslah dua hingga empat orang di tim anda yang menurut anda paling siap baik dari sisi ketenangan, pemahaman maupun dari sisi stamina untuk memeriksa kebenaran jalur himgga radius tertentu di depan. Ini bertujuan untuk menghemat energi tim anda. Jika kebenaran jalur sudah dapat dipastikan, barulah kemudian berikan kode kepada anggota tim lainnya di belakang untuk melanjutkan perjalanan.

 

8) Jangan sungkan bertanya pada pendaki lain

 

Jangan pernah sungkan bertanya pada pendaki lain yang anda temui di jalan untuk memastikan jalur pendakian. Banyak informasi-informasi penting yang mungkin tidak kita peroleh di internet atau buku, dll; yang bisa kita dapatkan dari pendaki-pendaki lain yang kita temui saat melakukan pendakian.

 

9) Tetap tenang saat tersesat

 

Ketenangan adalah hal yang sangat penting saat kita tersesat di gunung. Jangan panik! Kepanikan akan membuat kita sulit berpikir dengan jernih dan mudah putus asa. Pada saat panik hal-hal yang sebenarnya sederhana dan mudah bisa menjadi terlihat susah. Pada saat panik, jalur yang sudah benar di dekat anda bisa menjadi tidak kelihatan. Dalam kondisi seperti ini, kalau perlu bawa diri anda dan tim duduk santai sejenak untuk menenangkan pikiran dan berdiskusi tentang langkah-langkah yang harus dilakukan. Jika ada teman di tim anda yang panik, usahakan untuk menenangkannya karena suasana panik tersebut bisa menular kepada anggota tim yang lain.

 

10) Jaga jarak dan kebersamaan

 

Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab terpisahnya misalnya satu atau dua anggota tim anda dan bisa berakibat fatal seperti hilang. Ketika anda mendaki secara berkelompok, kemampuan baik fisik dan emosional tiap orang di dalam kelompok akan berbeda-beda. Ada yang fisik dan staminanya luar biasa dan ada juga sebaliknya. Ada yang ketenangan dan kematangannya mungkin lebih baik dalam menghadapi tekanan dibanding yang lain.

 

Jaga kebersamaan saat mendaki. Usahakan sebisa mungkin jika ada tim anda yang tercecer di belakang, tunggu dan pastikan jaraknya tidak terlalu jauh. Mengapa kebersamaan itu penting? Bukan berarti solo climber tidak aman, tapi mendaki bersama jelas memiliki sebuah kelebihan. Salah satu sifat alamiah manusia adalah kecenderungan untuk panik dan bingung biasanya lebih besar saat sendirian dibandingkan jika bersama orang lain atau teman. Adanya teman disamping anda akan menurunkan tekanan dan kepanikan saat menghadapi kesulitan. Disamping itu keberadaan teman saat mendaki akan menutupi kekurangan-kekurangan yang kita miliki.

 

11) Berhati-hatilah saat turun dari puncak

 

Saat turun dari puncak, tetap jaga kebersamaan dan jarak dengan teman anda. Perbedaan jarak katakanlah sejauh 20 meter saja bisa berubah menjadi malapetaka jika kita tidak berhati-hati saat turun dari puncak. Apalagi jika kabut tebal tiba-tiba muncul dan menutup jarak pandang. Belum lagi jika cuaca buruk menghantam saat anda turun dari puncak. Percaya atau tidak teman anda yang tadinya mungkin berada tidak jauh di depan anda bisa saja hilang sekejap dari pandangan anda. Oleh karena itu, jika anda tidak yakin saat turun dari puncak minta teman anda yang berada di depan untuk berhenti sejenak hingga anda mendekati posisinya.

 

Perhatikan dengan seksama jalur yang anda lalui saat turun dari puncak. Jangan sampai salah mengambil jalur. Sebagaimana kita ketahui, bentuk gunung mirip kerucut. Jika anda menyimpang sekian derajat dari jalur yang benar maka saat anda terus bergerak lurus turun dari puncak, penyimpangan tersebut akan semakin besar. Jika anda salah atau terlambat menyadari penyimpangan tersebut maka bisa-bisa anda akan tiba di sisi lereng gunung yang salah dari yang seharusnya. Atau kejadian yang lebih fatal bisa saja terjadi, seperti terjatuh ke jurang karena salah mengambil jalur.

 

12) Catat nomor-nomor penting

 

Catatlah nomor-nomor darurat dan penting serta nomor-nomor kontak petugas disana atau di basecamp pendakian. Hal ini berguna untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan anda membutuhkan pertolongan.

 

Semoga bermanfaat! Selamat mendaki gunung!

CARA MEBUAT BIVAK DI HUTAN DAN BENTUK NYA

Hay sobat PENDAKI INDONESIA!!! jumpa lagi nich…!!! saat ini mas deni nhesta anarki akan berbagi tips dan trik tentang Survival baik dalam  Pecinta Alam yang ingin membuat bivak, nach sebelum saya bahas Cara Membuat Bivak dan Bentuknya mari kita ketahui Bivak adalah salah satu keterampilan dalam mempertahankan hidup dialam terbuka (survive) yang harus dimiliki seorang petualang bila tersesat di hutan, gunung. Bivak adalah tempat untuk berlindung dan bermalam di hutan. Membuat tempat perlindungan jadi penting ketika terjadi hal-hal darurat. Padahal, bivak tak hanya dibuat ketika darurat saja, tetapi juga dipakai pada saat membuat camp sementara, artinya faktor kenyamanan harus menjadi prioritas. atau bisa juga Bivak adalah tempat berlindung sementara di alam bebas dari aneka gangguan cuaca, binatang buas, dan angin tentunya. Memang semua itu bisa mempergunakan Tenda Dome atau Flysheet, akan tetapi, bagaimana jika alat berlindung siap pakai tadi rusak ataupun sobek saat di alam bebas? Sudah tentu kita harus bisa membuat bivak atau shelter dari bahan sekeliling kita.

Bivak atau shelter dapat dibagi atas :
1. Bivak alam
Tempat berlindung yang dibuat dengan menggunakan bahan – bahan yang terdapat di alam seperti ;
a. Pohon tumbang
b. Lubang pada pohon besar
c. Gua
d. Bivak dari bambu
e. Bivak dari daun tumbuh – tumbuhan

2. Bivak buatan
a. Menggunakan plastik
b. Menggunakan Fly sheet

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan Bivak yaitu:
1. Untuk berapa lama
Dengan merencanakan akan berapa lama berlindung di suatu tempat, penghematan tenaga dan kesadaran emosi akan terjaga.

2. Sendiri atau kelompok
Buatlah tempat berlindung yang sesuai dengan kebutuhan, tidak terlalu luas dan tidak terlau sempit sehingga kehangatan tempat berlindung tetap terjaga.

3. Memilih tempat
untuk menjaga kenyamanan dan tetap hangatnya tempat berlindung serta menghindari cepatnya penurunan daya tahan tubuh, perhatikan hal berikut ;

a. Dirikan bivak yang terlindung dari terpaan angin, jangan dirikan bivak ditempat yang terbuka dari terpaan angin

b. Dirikan bivak pada tempat yang kering dan rata, untuk daerah yang lembab, buatlah para – para yang kokoh. Jangan dirikan bivak dilereng gunung atau lembah

c. Dirikan bivak dibawah kerindangan pohon yang tembus sinar matahari. Jangan dirikan dibawah pohon yang rapuh dan lapuk

d. Pada situasi bivak yang permanen, usahakan dirikan pada daerah yang dekat dengan sumber air. Jangan dirikan bivak dialiran sungai dan jalur lintas binatang.

Di daerah tempat kita akan mendirikan bivak hendaknya bukan merupakan sarang nyamuk atau serangga lainnya. Kita juga perlu perhatikan bahan pembuat bivak. Usahakan bivak terbuat dari bahan yang kuat dan pembuatannya baik, sebab semuanya akan menentukan kenyamanan.

Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan ketika kita memutuskan untuk membuat bivak, yaitu jangan sekali-kali membuat bivak pada daerah yang berpotensi banjir pada waktu hujan. Di atas bivak hendaknya tak ada pohon atau cabang yang mati atau busuk. Ini bisa berbahaya kalau runtuh.

Di daerah tempat kita akan mendirikan bivak hendaknya bukan merupakan sarang nyamuk atau serangga lainnya. Kita juga perlu perhatikan bahan pembuat bivak. Usahakan bivak terbuat dari bahan yang kuat dan pembuatannya baik. Bahan dasar untuk membuat bivak bisa bermacam-macam. Ada yang dibuat dari ponco (jas hujan plastik), lembaran kain plastik (flysheet) atau memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti daun-daunan, ijuk, rumbia, daun palem, dan lainnya. Tapi yang paling penting, kesemua bahan dasar tadi sanggup bertahan ketika menghadapi serangan angin, hujan atau panas.

Selain bahan yang bermacam-macam, bentuk bivak pun amat beragam. Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan. Tak harus berbentuk kerucut atau kubus, modelnya bisa apa saja. Ini amat bergantung pada kreativitas kita sendiri. Membuat bivak merupakan seni tersendiri karena kreasi dan seni seseorang bisa dicurahkan pada hasilnya.

Sebagai contoh, one man bivak. Pembuatannya dengan menancapkan kayu tiang pokok yang tingginya sekitar 1,5 meter. Letakkan di atasnya sebatang kayu yang panjangnya kira-kira dua meter. Ujungnya diikat kuat yang biasanya memakai patok. Lalu sandarkan potongan kayu yang lebih kecil di atasnya, yang berfungsi untuk menahan dedaunan yang akan jadi atap ”rumah” kita.

Bentuk lain dari alam yang bisa dimanfaatkan sebagai bivak yaitu gua, lekukan tebing atau batu yang cukup dalam, lubang-lubang dalam tanah dan sebagainya. Apabila memilih gua agar kita bisa memastikan tempat ini bukan persembunyian satwa. Gua yang akan ditinggali juga tak boleh mengandung racun. Cara klasik untuk mengetahui ada tidaknya racun adalah dengan memakai obor. Kalau obor tetap menyala dalam gua tadi artinya tak ada racun atau gas berbahaya di sekitarnya.

Kita juga bisa memanfaatkan tanah berlubang atau tanah yang rendah sebagai tempat berlindung. Tanah yang berlubang ini biasanya bekas lubang perlindungan untuk pertahanan, bekas penggalian tanah liat dan lainnya. Pastikan tempat-tempat tersebut tidak langsung menghadap arah angin. Kalau terpaksa menghadap angin bertiup kita bisa membuat dinding pembatas dari bahan-bahan alami. Selain menahan angin, dinding ini bertugas untuk menahan angin untuk tidak meniup api unggun yang dibuat di muka pintu masuk.

Bentuk2 Bivak dapat dilihat Gambar Dibawah Ini :

Cara Membuat Bivak dan Bentuknya
4 Model Bivak
Cara Membuat Bivak dan Bentuknya
3 Model Bivak dalam Rangka Ranting
Cara Membuat Bivak dan Bentuknya
Bentuk Bivak
Cara Membuat Bivak dan Bentuknya
Bentuk Bivak Ponco
Cara Membuat Bivak dan Bentuknya
 Bentuk Bivak Terbuat Dari Ranting dan Daun
Cara Membuat Bivak dan Bentuknya
Bentuk Bivak SB
Cara Membuat Bivak dan Bentuknya
Bentuk Bivak Bersantai

Bentuk lain dari alam yang bisa dimanfaatkan sebagai bivak yaitu gua, lekukan tebing atau batu yang cukup dalam, lubang – lubang dalam tanah dan sebagainya. Apabila memilih gua, kita bisa memastikan tempat ini bukan persembunyian satwa. Goa yang akan ditinggali juga tak boleh mengandung racun. Cara klasik untuk mengetahui ada tidaknya racun adalah dengan memakai obor. Kalau obor tetap menyala dalam gua tadi artinya tak ada racun atau gas berbahaya di sekitarnya.
Contoh Bentuk Bivak Alam:

Cara Membuat Bivak dan Bentuknya
Cara Membuat Bivak alam Tanah Berlubang
Cara Membuat Bivak dan Bentuknya
Bentuk Bivak alam Tanah Berlubang
Cara Membuat Bivak dan Bentuknya
Bentuk Bivak Alam Gua

Kita juga bisa memanfaatkan tanah berlubang atau tanah yang rendah sebagai tempat berlindung. Tanah yang berlubang ini biasanya bekas lubang perlindungan untuk pertahanan, bekas penggalian tanah liat dan lainnya. Pastikan tempat – tempat tersebut tidak langsung menghadap arah angin. Kalau terpaksa menghadap angin bertiup kita bisa membuat dinding pembatas dari bahan – bahan alami. Selain menahan angin, dinding ini bertugas untuk menahan angin untuk tidak meniup api unggun yang dibuat di muka pintu masuk .
gimana sobat…!!! dengan melihat bentuk dari bivak yang saya bagikan silahkan sobat membuat bivak tersendiri sesuai kreativitas sobat sendiri dengan menggunakan bahan yang ada disekitar sobat…!!! Semoga artikel Cara Membuat Bivak dan Bentuknya bermanfaat bagi Anda.

HIPOTERMIA PEMBUNUH NO SATU DI GUNUNG

       DDDHipotermia adalah suatu kondisi dimana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh di bawah 35 °C. Tubuh manusia mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu antara 36,5-37,5 °C. Di luar suhu tersebut, respon tubuh untuk mengatur suhu akan aktif menyeimbangkan produksi panas dan kehilangan panas dalam tubuh.
Gejala hipotermia ringan adalah penderita berbicara melantur, kulit menjadi sedikit berwarna abu-abu, detak jantung melemah, tekanan darah menurun, dan terjadi kontraksi otot / menggigil sebagai usaha tubuh untuk menghasilkan panas. Pada penderita hipotermia moderat, detak jantung dan respirasi melemah hingga mencapai hanya 3-4 kali bernapas dalam satu menit. Pada penderita hipotermia parah, pasien tidak sadar diri, badan menjadi sangat kaku, pupil mengalami dilatasi (membesar), terjadi hipotensi akut, dan pernapasan sangat lambat hingga tidak kentara.
Hipotermi terjadi bila terjadi penurunan suhu inti tubuh dibawah 35°C (95°F). Pada suhu ini, mekanisme kompensasi fisiologis tubuh gagal untuk menjaga panas tubuh.
Klasifikasi:

1. Berdasarkan sumber paparan yaitu :
– Hipotermi Primer : terjadi akibat paparan langsung individu yang sehat terhadap dingin.
– Hipotermi sekunder : mortalitas banyak terjadi pada fase ini dimana terjadi kelainan secara sistemik.
2. Berdasarkan temperature tubuh, yaitu :
– Ringan = 34-36°C
Kebanyakan orang bila berada pada suhu ini akan menggigil secara hebat, terutama di seluruh ekstremitas. Bila suhu tubuh lebih turun lagi, pasien mungkin akan mengalami amnesia dan disartria (susah bicara dengan jelas). Peningkatan kecepatan nafas juga mungkin terjadi.
– Sedang = 30–34°C
Terjadi penurunan konsumsi oksigen oleh sistem saraf secara besar yang mengakibatkan terjadinya hiporefleks (reflek melemah), hipoventilasi (kurang tarikan nafas), dan penurunan aliran darah ke ginjal. Bila suhu tubuh semakin menurun, kesadaran pasien bisa menjadi stupor (berkurangnya sensitivitas terhadap rangsang, hanya bereaksi oleh rangsang dasar seperti nyeri), tubuh kehilangan kemampuannya untuk menjaga suhu tubuh, dan adanya resiko timbul aritmia (gangguan irama jantung).
– Berat = <30
Pasien rentan mengalami fibrilasi ventrikular (kontraksi otot jantung pada ventrikel/bilik jantung yang tidak teratur dan tidak terkendali, dapat menyebabkan henti jantung), dan penurunan kontraksi miokardium (otot jantung), pasien juga rentan untuk menjadi koma, denyut nadi sulit ditemukan, tidak ada reflex, apnea (henti nafas), dan oligouria (pengeluaran urine lebih dari 100ml/hari namun kurang dari 400ml/hari, ini menandakan adanya gangguan ginjal dan disfungsi organ dalam (multiple organ dysfunction)). Pada fase ini juga akan terjadi Paradoxal Sense Of Warm di mana korban akan merasakan panas yang luar biasa sehingga merasa gerah padahal suhu tubuh korban terus menurun. Dalam keadaan kesadaran terganggu, korban akan melepaskan pakaiannya karena merasa gerah kepanasan. Namun ini adalah fase kritis di mana selanjutnya suhu tubuh korban akan turun drastis dan selanjutnya mengantuk, tertidur dan tewas.
Banyak kasus korban ditemukan meninggal di gunung dalam keadaan hanya mengenakan pakaian dalam, ini adalah tanda khas kematian yang di sebabkan oleh Hipotermia.
Pertolongan
Pada fase Hipotermi ringan, korban dapat dibantu menghangatkan dirinya dengan panas tubuhnya sendiri yaitu dengan dilepaskan semua pakaian yang basah dan diganti dengan pakaian kering, kemudian dibungkus dengan selimut thermal darurat (emergency thermal blanket) dan dimasukkan ke dalam sleeping bag. Cara ini di sebut Penghangatan Pasif (Passive Rewarming).
Pada fase hipotermia sedang, jika nampak gejalanya segera hangatkan korban dengan api unggun, selimut thermal darurat atau dengan air hangat dalam kemasan botol atau hydration bag (camel bag) yang ditempelkan ke tuibuh korban. Panas tubuh orang lain juga bisa digunakan dengan cara dibungkus bersama dalam selimut thermal darurat (emergency thermal blanket) dan dimasukkan dalam sleeping bag. Cara ini disebut Penghangatan Aktif (Active Rewarming)
Pada hipotermia berat sebisa mungkin hangatkan tubuh korban dan segera mungkin mendapatkan penanganan medis. Jika terjadi henti jantung segera lakukan Resusitasi Jantung Paru (Cardio Pulmonary Resusitation / CPR) sesuai standard.
Jurus paling jitu mengatasi hipotermia adalah mencegahnya terjadi dengan cara hindari mengenakan pakian basah, selalu bawa pakaian penahan dingin yang cukup dan saling memperhatikan gejala gejala hipotermia yang terjadi pada diri anda sendiri ataupun rekan seperjalanan anda.
Emergency Thermal Blanket / Selimut Penahan Panas Tubuh Darurat adalah alat sederhana, murah, ringkas namun merupakan pertolongan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa dalam kasus hipotermia. Terbuat dari Polyetilene (PE) yang dilapis dengan material Mylar. Selain dapat menahan 90% panas tubuh, juga dapat dijadikan Signalling Mirror / Cermin Sinyal. Selalu bawa emergency thermal blanket dalam survival kit anda.

SERANGGA SEBAGAI MENU PILIHAN DALAM SURVIVAL

34Kebanyakan orang yang belum pernah mempraktekkan ilmu Survival dalam sebuah skenario nyata dengan menempatkan diri di hutan dan bertahan hidup dengan memanfaatkan sumber sumber yang ada di hutan selama beberapa hari atau minggu, selalu memilih memburu hewan hewan besar sebagai sumber makanan dengan logika bahwa mereka akan memiliki stock makanan yang banyak. Padahal kenyataannya untuk menangkap hewan hewan besar membutuhkan usaha yang besar pula, dan tidaklah mudah serta menguras energi. Kita harus mencari jalur lintasan hewan tersebut dan mempelajari jejaknya untuk mengetahui jenis dan ukuran hewan tersebut agar dapat memasang jerat dnegan ukuran yang sesuai, belum lagi saat sudah terjerat kita perlu usaha melumpuhkan atau membunuhnya untuk melepaskannya dari jerat, masih lagi harus menyembelih, menguliti, membersihkan dan memotong motong, memasaknya dan tentunya sisa dagingnya harus kita awetkan yang memaksa kita harus membuat sistem pengawetan yang memakan waktu paling tidak 3×24 jam. Tentu ini bukan pekerjaan mudah dan ringan, kalau ga percaya tanya sama tukang jagal hewan. Untuk menyembelih, menguliti dan membersihkan 1 ekor kambing saja itu sudah menguras energi dan seringkali usaha mendapatkan hewan besar sudah membuang energi banyak namun berakhir dengan sia sia. Berburu dalam situasi survival sangat berbeda kondisinya dengan berburu yang dilakukan suku suku pedalaman ataupun para pemburu yang membawa perlengkapan dan senjata lengkap.
Namun bagi mereka yang sudah benar benar pernah mempraktekkan ilmu survival dalam skenario yang nyata, mereka akan menemukan fakta bahwa lebih mudah menangkap hewan kecil seperti unggas dan serangga daripada berburu hewan besar. Sebab unggas dan serangga ada di semua bagian hutan dan mudah menangkapnya. Ingat dalam keadaan Survival kita harus menerapkan prinsip pedagang dalam urusan energi, kalori dan protein. Setiap usaha harus menghasilkan keuntungan, artinya hasil yang di dapat harus lebih besar dari yang modal yang di keluarkan. Meminjam istilah Om Hidayat Ashari, “Survival Is A Game Of Calorie”. Prinsip pedagang ini harus anda terapkan dengan ketat.
Bicara tentang serangga tentunya banyak orang merasa jijik bahkan sampai ketakutan.. Apalagi jika harus memakannya.. Namun dalam situasi Survival anda boleh memilih mempertahankan rasa jijik dan takut anda dengan konsekwensi tidak mendapatkan kalori dan protein untuk tubuh anda atau membuang jauh jauh rasa jijik dan takut anda demi mencukupi kebutuhan kalori dan protein bagi tubuh anda.
Sebenarnya serangga sudah menjadi makanan pokok di suku suku pedalaman dan dewasa ini di beberapa negara masakan berbahan baku serangga sudah menjadi menu normal bahkan menjadi menu mewah yang disajikan di restoran restoran lux dengan harga aduhai.
Saya sendiri juga awalnya merasa jijik (beruntung saya tidak merasa takut dengan serangga), namun demi memberi pengalaman pada diri dalam menghadapi situasi Survival maka saya memaksa diri untuk mencicipi menus serangga. Sudah banyak jenis serangga saya makan baik mentah maupun digoreng. Ternyata rasanya banyak yang enak. Sehingga akhirnya saya malah jadi suka. Untungnya lagi saya ngga ada alergi terhadap menu serangga.
Dalam situasi Survival, ada beberapa patokan dalam memilih jenis serangga yang akan kita makan, yaitu sebagai berikut
1. Hindari serangga yang berwarna mencolok. Warna mencolok di alam liar bisa berarti peringatan untuk hewan lainnya agar menjauh. Artinya serangga serangga berwarna mencolok ini mungkin memiliki senjata rahasia yang mematikan untuk pertahan dirinya.
2. Hindari serangga berbulu, karena umumnya bulu bulu ini mengandung racun yang membuat gatal serta bengkak yang sangat tidak nyaman
3. Hindari serangga yang berbau tidak sedap. Bau juga merupakan tanda bahwa serangga ini mengeluarkan atau menyemprotkan cairan yang digunakan untuk pertahanan diri.
4. Walaupun beberapa jenis serangga bisa dimakan mentah, namun sebisa mungkin masaklah dahulu sebelum di konsumsi karena beberapa jenis serangga memiliki parasit. Selain itu dengan memasak rasanya juga jauh lebih enak, juga membuat pikiran kita lebih nyaman karena tidak ada cairan yang muncrat saat kita menggigitnya.
5. Hindari serangga yang memakan tumbuhan beracun. Beberapa jenis keong dan siput memakan tumbuhan beracun, walaupun dagingnya aman untuk dimakan namun kandungan racun dalam sistem pencernaan mereka bisa menyebakan masalah buat tubuh kita, untuk amannya maka sebaiknya di hindari. Namun jika memang itu yang ada untuk di makan maka anda bisa menggunakan trik untuk menguras isi perut mereka dengan cara mengumpulkannya dan di biarkan kelaparan beberapa hari atau kumpulkan dan beri mereka makanan daun daun yang tidak beracun.
Manusia bisa bertahan selama lebih dari tiga minggu tanpa makanan. Bahkan makanan merupakan prioritas survival yang terakhir, Lebih kita mengutamakan membuat shelter, mengumpulkan air dan membuat api. Menjadi seorang Survivor, selalu carilah sumber makanan yang mudah, walaupun itu kadang menjijikkan. Mengumpulkan makanan dalam skenario Survival seringkali kita harus mengumpulkan dari beberapa jenis sumber makanan dan serangga adalah salah satu pilihan terbaik. Jangkrik goreng, Larva kumbang kelapa goreng, Ulat Sagu goreng, Belalang goreng, kepompong ulat jati, ulat pisang, pepes lebah madu adalah menu serangga favorit saya. Selamat menikmati..

PENGETAHUAN DASAR ORIENTASI PETA

Navigasi darat adalah ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi. Bahkan seorang jago navigasi yang tidak pernah berlatih dalam jangka waktu lama, dapat mengurangi kepekaannya dalam menerjemahkan tanda-tanda di peta ke medan sebenarnya, atau menerjemahkan tanda-tanda medan ke dalam peta. Untuk itu, latihan sesering mungkin akan membantu kita untuk dapat mengasah kepekaan, dan pada akhirnya navigasi darat yang telah kita pelajari menjadi bermanfaat untuk kita.
Pada prinsipnya navigasi adalah cara menentukan arah dan posisi, yaitu arah yang akan dituju dan posisi keberadaan navigator berada dimedan sebenarnya yang di proyeksikan pada peta.
Beberapa media dasar navigasi darat adalah :
Peta
Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau diperkecil dengan perbandingan tertentu. Dalam navigasi darat digunakan peta topografi. Peta ini memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.
Beberapa unsur yang bisa dilihat dalam peta :
  • Judul peta; biasanya terdapat di atas, menunjukkan letak peta
  • Nomor peta; selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, kita bisa menggunakannya sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta
  • Koordinat peta; penjelasannya dapat dilihat dalam sub berikutnya
  • Kontur; adalah merupakan garis khayal yang menghubungkan titik titik yang berketinggian sama diatas permukaan laut.
  • Skala peta; adalah perbandingan antara jarak peta dan jarak horizontal dilapangan. Ada dua macam skala yakni skala angka (ditunjukkan dalam angka, misalkan 1:25.000, satu senti dipeta sama dengan 25.000 cm atau 250 meter di keadaan yang sebenarnya), dan skala garis (biasanya di peta skala garis berada dibawah skala angka).
  • Legenda peta; adalah simbol-simbol yang dipakai dalam peta tersebut, dibuat untuk memudahkan pembaca menganalisa peta.

 

Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960.
Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5 m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.
Koordinat
Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu :
1. Koordinat Geografis (Geographical Coordinate) ; Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30″), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60″).
2. Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM) ; Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1 mm).
Analisa Peta
Salah satu faktor yang sangat penting dalam navigasi darat adalah analisa peta. Dengan satu peta, kita diharapkan dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang keadaan medan sebenarnya, meskipun kita belum pernah mendatangi daerah di peta tersebut.
Unsur dasar peta;
Untuk dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya, pertama kali kita harus cek informasi dasar di peta tersebut, seperti judul peta, tahun peta itu dibuat, legenda peta dan sebagainya. Disamping itu juga bisa dianalisa ketinggian suatu titik (berdasarkan pemahaman tentang kontur), sehingga bisa diperkirakan cuaca, dan vegetasinya.
Mengenal tanda medan;
Disamping tanda pengenal yang terdapat dalam legenda peta, kita dapat menganalisa peta topografi berdasarkan bentuk kontur. Beberapa ciri kontur yang perlu dipahami sebelum menganalisa tanda medan :
Antara garis kontur satu dengan yang lainnya tidak pernah saling berpotongan
Garis yang berketinggian lebih rendah selalu mengelilingi garis yang berketinggian lebih tinggi, kecuali diberi keterangan secara khusus, misalnya kawah
Beda ketinggian antar kontur adalah tetap meskipun kerapatan berubah-ubah
Daerah datar mempunyai kontur jarang-jarang sedangkan daerah terjal mempunyai kontur rapat.
Beberapa tanda medan yang dapat dikenal dalam peta topografi:
  • Puncak bukit atau gunung biasanya berbentuk lingkaran kecil, tertelak ditengah-tengah lingkaran kontur lainnya.
  • Punggungan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk U yang ujungnya melengkung menjauhi puncak
  • Lembahan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk V yang ujungnya tajam menjorok kepuncak. Kontur lembahan biasanya rapat.
  • Saddle, daerah rendah dan sempit diantara dua ketinggian
  • Pass, merupakan celah memanjang yang membelah suatu ketinggian
  • Sungai, terlihat dipeta sebagai garis yang memotong rangkaian kontur, biasanya ada di lembahan, dan namanya tertera mengikuti alur sungai. Dalam membaca alur sungai ini harap diperhatikan lembahan curam, kelokan-kelokan dan arah aliran.
  • Bila peta daerah pantai, muara sungai merupakan tanda medan yang sangat jelas, begitu pula pulau-pulau kecil, tanjung dan teluk
  • Pengertian akan tanda medan ini mutlak diperlukan, sebagai asumsi awal dalam menyusun perencanaan perjalanan

 

Kompas
Kompas adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan selalu menunjuk arah utara-selatan (meskipun utara yang dimaksud disini bukan utara yang sebenarnya, tapi utara magnetis). Secara fisik, kompas terdiri dari :
Badan, tempat komponen lainnya berada
Jarum, selalu menunjuk arah utara selatan, dengan catatan tidak dekat dengan megnet lain/tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu/peta dalam posisi horizontal.
Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat sistem mata angin.
Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik (misal kompas prisma) dan kompas orienteering (misal kompas silva, suunto dll). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar lebih akurat dari kompas silva. Namun untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering lebih handal dan efisien.
Dalam memilih kompas, harus berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumnya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang-goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan harus dari bahan yang kuat/tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat
Catatan:
Saat ini sudah banyak digunakan GPS [global positioning system] dengan tehnologi satelite untuk mengantikan beberapa fungsi kompas.
Orientasi Peta
Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (atau dengan kata lain menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncakan, nama sungai, desa dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana. Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda dipeta adalah benar. Langkah-langkah orientasi peta:
  1. Usahakan untuk mencari tempat yang berpemandangan terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok.
  2. Siapkan kompas dan peta anda, letakkan pada bidang datar
  3. Utarakan peta, dengan berpatokan pada kompas, sehingga arah peta sesuai dengan arah medan sebenarnya
  4. Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekitar anda, dan temukan tanda-tanda medan tersebut di peta. Lakukan hal ini untuk beberapa tanda medan
  5. Ingat tanda-tanda itu, bentuknya dan tempatnya di medan yang sebenarnya. Ingat hal-hal khas dari tanda medan.

 

Jika anda sudah lakukan itu semua, maka anda sudah mempunyai perkiraan secara kasar, dimana posisi anda di peta. Untuk memastikan posisi anda secara akurat, dipakailah metode resection.
Resection
Prinsip resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dalam peta dan dapat dibidik pada medan sebenarnya (untuk latihan resection biasanya dilakukan dimedan terbuka seperti kebun teh misalnya, agar tanda medan yang ekstrim terlihat dengan jelas).
Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.
Langkah-langkah melakukan resection:
  1. Lakukan orientasi peta
  2. Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah
  3. Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut (untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil mekanik-B2).
  4. Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik. Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat.
  5. Pindahkan sudut back azimuth bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.
  6. Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.

 

Intersection
Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai atau tidak diketahui posisinya di peta. Syaratnya, sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu.
Langkah-langkah melakukan intersection adalah:
  1. Lakukan orientasi peta
  2. Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.
  3. Bidik obyek yang kita amati
  4. Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta
  5. Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3
  6. Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.

 

Azimuth – Back Azimuth
Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika anda membidik sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga bisa dinamakan sebagai azimuth. Kebalikannya adalah back azimuth. Dalam resection back azimuth diperoleh dengan cara:
  • Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180º maka back azimuth adalah azimuth dikurangi 180º. Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º. Back azimuthnya adalah 200º- 180º = 20º
  • Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya adalah 180º ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, diperoleh azimuth 160º, maka back azimuthnya adalah 180º+160º = 340º

 

Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk dapat melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut bidikan). Selain itu sudut kompas dan back azimuth ini dipakai dalam metode pergerakan sudut kompas (lurus/ man to man-biasa digunakan untuk “Kompas Bintang”). Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
  1. Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung pula sudut dari titik akhir ke titik awal. Sudut ini dinamakan back azimuth.
  2.  Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan. Perhatikan tanda medan lain pada lintasan yang dilalui.
  3. Bidikkan kompas seusai dengan arah perjalanan kita, dan tentukan tanda medan lain di ujung lintasan/titik bidik. Sudut bidikan ini dinamakan azimuth.
  4. Pergi ke tanda medan di ujung lintasan, dan bidik kembali ke titik pertama tadi, untuk mengecek apakah arah perjalanan sudah sesuai dengan sudut kompas (back azimuth).
  5. Sering terjadi tidak ada benda/tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda. Sistem pergerakan semacam ini sering disebut sebagai sistem man to man.

 

Merencanakan Jalur Lintasan
Dalam navigasi darat tingkat lanjut, kita diharapkan dapat menyusun perencanaan jalur lintasan dalam sebuah medan perjalanan. Sebagai contoh anda misalnya ingin pergi ke suatu gunung, tapi dengan menggunakan jalur sendiri.
Penyusunan jalur ini dibutuhkan kepekaan yang tinggi, dalam menafsirkan sebuah peta topografi, mengumpulkan data dan informasi dan mengolahnya sehingga anda dapat menyusun sebuah perencanaan perjalanan yang matang. Dalam proses perjalanan secara keseluruhan, mulai dari transportasi sampai pembiayaan, disini kita akan membahas khusus tentang perencanaan pembuatan medan lintasan. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum anda memplot jalur lintasan.
Pertama, anda harus membekali dulu kemampuan untuk membaca peta, kemampuan untuk menafsirkan tanda-tanda medan yang tertera di peta, dan kemampuan dasar navigasi darat lain seperti resection, intersection, azimuth back azimuth, pengetahuan tentang peta kompas, dan sebagainya, minimal sebagaimana yang tercantum dalam bagian sebelum ini.
Kedua, selain informasi yang tertera dipeta, akan lebih membantu dalam perencanaan jika anda punya informasi tambahan lain tentang medan lintasan yang akan anda plot. Misalnya keterangan rekan yang pernah melewati medan tersebut, kondisi medan, vegetasi dan airnya. Semakin banyak informasi awal yang anda dapat, semakin matang rencana anda.
Tentang jalurnya sendiri, ada beberapa macam jalur lintasan yang akan kita buat. Pertama adalah tipe garis lurus, yakni jalur lintasan berupa garis yang ditarik lurus antara titik awal dan titik akhir. Kedua, tipe garis lurus dengan titik belok, yakni jalur lintasan masih berupa garis lurus, tapi lebih fleksibel karena pada titik-titik tertentu kita berbelok dengan menyesuaian kondisi medan. Yang ketiga dengan guide/patokan tanda medan tertentu, misalnya guide punggungan/guide lembahan/guide sungai. Jalur ini lebih fleksibel karena tidak lurus benar, tapi menyesuaikan kondisi medan, dengan tetap berpatokan tanda medan tertentu sebagai petokan pergerakannya.
Untuk membuat jalur lintasan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
  1. Usahakan titik awal dan titik akhir adalah tanda medan yang ekstrim, dan memungkinkan untuk resection dari titik-titik tersebut.
  2. Titik awal harus mudah dicapai/gampang aksesnya
  3. Disepanjang jalur lintasan harus ada tanda medan yang memadai untuk dijadikan sebagai patokan, sehingga dalam perjalanan nanti anda dapat menentukan posisi anda di peta sesering mungkin.
  4. Dalam menentukan jalur lintasan, perhatikan kebutuhan air, kecepatan pergerakan vegetasi yang berada dijalur lintasan, serta kondisi medan lintasan. Anda harus bisa memperkirakan hari ke berapa akan menemukan air, hari ke berapa medannya berupa tanjakan terjal dan sebagainya.
  5. Mengingat banyaknya faktor yang perlu diperhatikan, usahakan untuk selalu berdiskusi dengan regu atau dengan orang yang sudah pernah melewati jalur tersebut sehingga resiko bisa diminimalkan.

 

 
Penampang Lintasan
Penampang lintasan adalah penggambaran secara proporsional bentuk jalur lintasan jika dilihat dari samping, dengan menggunakan garis kontur sebagai acuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi, dan sudut pendangnya dari atas, agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana bentuk medan lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian. Dalam kontur yang kerapatannya sedemikian rupa, bagaimana kira-kira bentuk di medan sebenarnya. Untuk memudahkan kita menggambarkan bentuk medan dari peta topografi yang ada, maka dibuatlah penampang lintasan.
Beberapa manfaat penampang lintasan :
  1. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan
  2. Memudahkan kita untuk menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan
  3. Dapat mengetahui titik-titik ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu
  4. Untuk menyusun penampang lintasan biasanya menggunakan kertas milimeter block, guna menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang.

 

Langkah-langkah membuat penampang lintasan:
  1. Siapkan peta yang sudah diplot, kertas milimeter blok, pensil mekanik/pensil biasa yang runcing, penggaris dan penghapus
  2. Buatlah sumbu x, dan y. sumbu x mewakili jarak, dengan satuan rata-rata jarak dari lintasan yang anda buat. Misal meter atau kilometer. Sumbu y mewakili ketinggian, dengan satuan mdpl (meter diatas permukaan laut). Angkanya bisa dimulai dari titik terendah atau dibawahnya dan diakhiri titik tertinggi atau diatasnya.
  3. Tempatkan titik awal di sumbu x=0 dan sumbu y sesuai dengan ketinggian titik tersebut. Lalu peda perubahan kontur berikutnya, buatlah satu titik lagi, dengan jarak dan ketinggian sesuai dengan perubahan kontur pada jalur yang sudah anda buat. Demikian seterusnya hingga titik akhir.
  4. Perubahan satu kontur diwakili oleh satu titik. Titik-titik tersebut dihubungkan sat sama lainnya hingga membentuk penampang berupa garis menanjak, turun dan mendatar.
  5. Tembahkan keterangan pada tanda-tanda medan tertentu, misalkan nama-nama sungai, puncakan dan titik-titik aktivitas anda (biasanya berupa titik bivak dan titik istirahat), ataupun tanda medan lainnya. Tambahan informasi tentang vegetasi pada setiap lintasan, dan skala penampang akan lebih membantu pembaca dalam menggunakan penampang yang telah dibuat                                  .12

SIMPUL UNTUK RAPELLING

Jika anda telah memanjat dan perlu untuk rappeling, salah satu dari puncak jalur yang baru saja anda panjat atau berhenti karena cuaca mulai memburuk misalnya akan ada badai disertai petir, kemudian perlu menyambung tali untuk turun ke bawah. Double-rope rappeling bisa membuat anda lebih cepat untuk meluncur ke bawah, khususnya jika anda menggunakan dua tali yang panjangnya 200-feet (60 meter), anda akan terlepas dari bahaya petir.
Rappelling adalah salah satu teknik panjat paling berbahaya. Banyak kecelakaan terjadi saat rappelling. Bila anda melakukan rappelling dari tebing, anda wajib mempercayakan peralatan pada tali, descender, harness, dan semua terhubung dengan tali anda. Disamping punya anchor yang sempurna, anda perlu menyambung tali dengan sebuah simpul kuat yang akan mendukung berat anda saat rappelling.
Empat Simpul Terbaik Untuk Tali Rappeling
1. Double Figure-8 Fisherman’s Knot.
merupakan cara umum untuk mengikat tali rappel bersama, rangkain paling kuat, dan jika diikat semestinya, tidak akan terlepas. Juga mudah dilihat untuk memeriksa dan menyakinkan ini diikat semestinya. Dan juga mudah diuraikan setelah terbebani. Ini adalah simpul terbaik untuk menyambung tali dengan diameter yang tak sama. Setelah anda menyambung tali dengan double figure-8, maka setiap ujung tali diikat dengan fisherman knot sebagai back-up.

 

2. Square Fisherman’s Knot.
Banyak pemanjat menyukai ini simpul karena diikat dan paling mudah diuraikan dari empat simpul ini. pada dasarnya sekedar sebuah square knot (simpul mati) yang di back-up dengan simpul double fisherman pada sisi lainnya. jika anda menggunakan simpul ini, selalu gunakan simpul backup atau jangan sampai ini terlepas. simpul mati sendirian bukan sebuah simpul yang baik untuk rappelling atau tujuan pemanjatan lainnnya. Setelah anda membuat simpul mati kunci dengan fisherman knot
3. Double Overhand Knot.
Simpul ini, kadang-kadang disebut “simpul mati eropa,” telah tenar dan sering digunakan untuk menyambung tali. Paling cepat dan paling mudah dibuat dari empat simpul lainnya dan punya lekukan yang sedikit, yang membuat ini jarang tersangkut atau membuat tali kaku. Jangan gunakan simpul ini dengan tali temali bermacam-macam diameter, sedikitnya satu kecelakaan fatal telah terjadi karena simpul ini terlepas. Sebagai alternatif, anda dapat gunakan simpul figure-8 ganda daripada simpul overhand, meskipun uji laboratorium milik Black Diamond di Salt lake City (AS) menunjukkan bahwa double overhand lebih kuat dari double figure-8 .

 

4. Double Fisherman’s Knot.
Adalah simpul tradisional untuk menyambung dua tali, tetapi kurang disenangi dibanding simpul – simpul di atas. Simpul ini mudah membuatnya  sulit dilepaskan setelah terbebani, terutama jika tali basah. Simpul ini baik saat digunakan untuk menyambung tali diameter kecil (prusik) misal spectra untuk anchor

Mengenal simpul sebelum menggunakannya

Semua simpul ini kuat dan aman, tetapi tentu saja harus diikat dengan tepat. Pelajari mengikat simpul ini di dasar tebing atau di rumah sebelum anda menggunakannnya pada anchor rappel pada sebuah pemanjatan, hidup anda tergantung pada simpul yang diikat semestinya. Semua simpul ini , kecuali simpul overhand ganda, diback-up dengan simpul nelayan (fisherman knot) untuk pengamanan pada sisi lainnya.

Gunakan sebuah Stopper Knot

Jika anda melakukan rappelling, selalu buat stopper knot, yaitu; simpul nelayan ganda, simpul overhand, atau simpul delapan, di kedua ujung tali sehingga anda atau partner anda tak akan melewati bagian ujung tali saat rappelling.

Pilah salah satu dari keempat simpul
Sebaiknya pilih satu simpul yang anda suka dan hanya menggunakan ini setiap kali anda menyambung tali. Jika anda menggunakan satu simpul untuk rappelling, anda akan menjadi terbiasa dengannya dan anda tahu bagaimana membuatnya; tahu bagaimana cara melepaskannya; anda tahu berapa banyak sisa yang ditinggalkan masing-masing ujung untuk membuat fisherman knot sebagai back-up. Saya selalu gunakan Double Fisherman Knot, karena ini terasa seperti simpul teraman bagi saya. Saya senang merasakan aman secara total bila saya melakukan rappelling, terutama jika itu adalah suatu rappelling dari bagunan atau tebing sangat tinggi yang menakutkan. Cobalah pada tebing kecil dan putuskan simpul rappelling yang cocok untuk anda.